Rabu, 20 Juli 2022

Kondisi Perekonomian Warga Sekitar Moda Transportasi di Haurgeulis-Indramayu Setelah Covid-19 Mereda

 Oleh: Umar


Terminal Haurgeulis; Sumber Foto Pribadi

Pandemi covid-19 sudah tidak asing lagi didengar. Kasus covid-19 yang merupakan pandemi global menimbulkan kekhawatiran dari berbagai kalangan, Pandemi yang terjadi di Indonesia sejak tahun 2020 ini sempat membuat kondisi perekonomian tertahan dan tertekan, khususnya para pedagang di area sekitar stasiun Kereta Api Indonesia (KAI). Namun, semenjak awal tahun 2022 lalu, nampaknya pandemi covid-19 mulai mereda.

Meredanya pandemi covid-19 ini membuat perekonomian Indonesia berangsur pulih. Tidak hanya itu, mobilitas warga pun berangsur ramai kembali, termasuk animo para pengguna kereta api. Dampak positif dari meredanya covid-19 sangat dirasakan oleh juru parkir yang berada di sekitar stasiun kereta api Haurgeulis Kabupaten Indramayu. Fiqih yang kurang lebih dua tahun menjadi tukang parkir ini mengatakan bahwa pendapatannya melonjak setelah pandemi ini mereda.

“Saat masih pandemi pendapatan saya perhari hanya sekitar 180 ribu, tetapi setelah pandemi ini mereda, perhari saya bisa mendapatkan hampir 400 ribu” ucapnya.


Suasana Terminal Haurgeulis; Sumber Foto Pribadi

Hal menyenangkan ini pun dirasakan oleh Selvina, 23 tahun, yang sudah menjadi karyawan Roti O selama 3 tahun yang berjualan di dalam stasiun Haurgeulis.

“Menurut saya saat pandemi mereda ini, kondisi berangsur normal karena tidak ada lagi pembatasan sosial sehingga penumpang di stasiun meningkat, dan kondisi ini memengaruhi penjualan Roti O yang kembali ramai.” Tuturnya dengan mantap.

Ternyata kondisi ini pun tidak hanya dirasakan oleh pedagang dan tukang parkir yang berada dekat dengan stasiun, tetapi dirasakan juga oleh karyawan Yomart Minimarket yang kondisinya berada sekitar kurang lebih 20 meter dari stasiun.

“Meredanya covid tentu saja itu bagus karena sangat berdampak dengan dunia perdagangan khusunya dunia retail, di mana semenjak adanya covid semua usaha jadi terbatas karena banyak aturan yang harus kita patuhi dan membuat dampak besar terhadap dunia retail.” Ungkap Risti yang sudah bekerja menjadi karyawan Yomart selama 11 tahun.

Dia pun mengatakan bahwa untuk pendapatan sangat jauh berbeda dari sebelum dan sesudah pandemi, karena memang untuk Yomart stasiun sebelum pandemi hanya membuka satu sift sekitar 10 jam saja,

“Baru di tahun ini kita buka normal dari jam 7 sampai jam 10 malam dan tentunya dampak terhadap penghasilannya akan lebih besar karena penumpang pun mengalami kenaikan yang signifikan disaat pandemi mereda.” Imbuhnya dengan semangat.

Untuk perbedaan aturan, menurutnya tidak ada sama sekali karena mereka mengikuti aturan dari pemerintah dan aturan dari Yogya Group. Perihal aturan dagang dimasa pandemi, pihak KAI tidak pernah mempermasalahkan aturan yang sudah dibuat dalam hal perdagangan.

Menurut Iim, salah satu penumpang yang sering menggunakan moda transportasi KAI, meredanya covid-19 ini sangat membantu dalam menggunakan kereta api,

“Tidak perlu test antigen atau PCR lagi, cukup dengan mematuhi prosedur kesehatan. Meskipun regulasi tes sebelum naik kereta terkadang membuat bingung dan biaya naik kereta bertambah” keluh mahasiswa di salah satu kota ternama di Jawa Barat ini.

Sebagai penumpang yang minimal satu bulan sekali menggunakan kereta ini, saat pandemi mereda, ia menjadi berani membeli lebih banyak makanan ringan di area sekitar stasiun yang sebelumnya hanya berani membeli minuman saja karena ada larangan makan di dalam kereta.



Suasana Terminal Haurgeulis; Sumber Foto Pribadi

Meredanya virus covid-19 ini pun tak hanya berpengaruh terhadap mobilitas warga sekitar stasiun kereta api saja, tetapi juga terjadi pada moda transportasi lain seperti terminal Haurgeulis. Ibu Acih, pedagang sekitar terminal Haurgeulis merasakan perbedaan pendapatan yang signifikan saat sebelum dan sesudah adanya covid-19.

“Waktu covid-19 sedang parah-parahnya, penjualan sangat sepi karena tidak banyak penumpang yang naik Bus di sini, sehari dapat 50 ribu saja sudah sangat bersyukur” ujar perempuan paruh baya tersebut. Menurutnya, kondisi warung kecilnya tetap bertahan sampai saat ini pun merupakan hal yang luar biasa.

Harto, lelaki berumur 40an yang sudah sepuluh tahun menjadi supir Bus ini merasakan bahwa covid-19 sangat mengubah hidupnya. “Pekerjaan supir kan selalu berpergian, sejak ada PSBB, saya benar-benar di rumah saja, memutar otak untuk mendapat penghasilan lain.” Keluh supir Bus Karawang Indah tersebut. Ia sempat mencoba berjualan mengikuti jejak teman supirnya yang lain, tetapi tetap hasil jualan pun tidak seberapa karena rata-rata orang begitu takut untuk membeli sesuatu.

Ternyata meredanya Covid-19 sangat terasa oleh semua kalangan. Perbedaan saat covid-19 melanda dengan sesudah virus itu mereda begitu signifikan memengaruhi kehidupan terutama ekonomi warga sekitar stasiun dan terminal yang berada di Haurgeulis Kabupaten Indramayu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Daya Tarik Wisata Edukasi di Yogyakarta (Wisata Taman Pintar dan Bus Heritage Track)

 Oleh: Fathia Annisa Pariwisata merupakan salah satu sumber kehidupan yang tidak bisa dilepaskan di masa sekarang. Di Indonesia sendiri pari...