Rabu, 20 Juli 2022

Daya Tarik Wisata Edukasi di Yogyakarta (Wisata Taman Pintar dan Bus Heritage Track)

 Oleh: Fathia Annisa

Pariwisata merupakan salah satu sumber kehidupan yang tidak bisa dilepaskan di masa sekarang. Di Indonesia sendiri pariwisata sedang gencar-gencarnya dikembangkan, Yogyakarta merupakan salah satu kota yang banyak menjadi tujuan wisatawan. Terlebih jika wisata tersebut memiliki nilai edukasi bagi wisata yang mengajak anak-anaknya. Salah satu destinasi wisata edukasi yang memiliki daya tarik di Yogyakarta adalah Taman Pintar, dengan memiliki wahana bermain sekaligus belajar.


Gambar Taman Pintar; Sumber Foto Pribadi

Taman Pintar Yogyakarta adalah wahana wisata edukasi yang terletak di pusat kota Yogyakarta. Tepatnya terletak di Jalan Panembahan Senopati No. 1-3, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta. Wahana wisata ini memadukan tempat wisata rekreasi dan wisata edukasi dalam satu lokasi. Taman pintar ini memiliki 5 gedung wahana permainan yaitu gedung oval, gedung kotak, gedung paud, gedung memorabilia dan gedung planetarium.

Sarana edukasi yang dibagi dalam beberapa zona ini sangat baik dan cocok untuk tempat rekreasi anak-anak pada masa perkembangan. Oleh karena itu Taman Pintar menjadi salah satu pilihan orang tua untuk mengajak anak-anaknya berwisata edukasi. “Tempatnya buat anak belajar edukasi ya mbak, lebih gampang belajar dengan alat-alat peraga secara langsung”, ujar salah satu pengunjung Taman Pintar.

Sebelum mengunjungi taman pintar, ada beberapa informasi yang perlu kita ketahui mengenai tiket, waktu operasional, dan fasilitasnya. Adapun harga tiket Taman Pintar Yogyakarta sebesar 12.000 untuk anak-anak dan 20.000 untuk orang dewasa, harga tiket tersebut belum termasuk harga tiket untuk mencoba wahana-wahana yang ada di dalamnya. 

“Lebih mending kalau tiket ada yang langsung dibuat tiket terusan misal 1 tiket terusan bisa untuk semua wahana” ujar Hesti.


Gambar Bus Heritage

Selain Taman Pintar, wisata edukasi yang baru saat ini di Yogyakarta adalah Bus Heritage Track. Inovasi wisata baru kali ini disiapkan oleh Pemda DIY, bus ini dapat diakses siapa saja yang ingin merasakan pengalaman berkeliling di Kawasan Sumbu Filosofi Panggung (Krapyak-Keraton-Tugu) yang telah diajukan sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO. Bus Malioboro yang berwarna merah dan bus kraton yang berwarna kuning. Bus ini terlihat apik tampak luar menggunakan gaya retro klasik namun di dalamnya terdapat teknologi yang sudah canggih.

“Fasilitas yang ada pada bus sangat memadai mulai dari Ac, kursi yang nyaman, CCTV, hingga pemandu wisata yang menjelaskan segala bangunan yang menjadi sumbu imajiner dan sejarah Yogyakarta” ujar Ilham salah satu wisatawan lokal yang sudah mencoba bus ini. Di Belakang bus juga ada sepeda yang dapat digunakan untuk mengelilingi destinasi wisata yang ada di jalur bus. Untuk penumpang dalam bis ini juga dibatasi hanya 8 penumpang saja, sehingga membuat suasana jadi kondusif. Selain itu guide di bis ini tidak hanya menjelaskan, namun juga interaktif.

“Mengingat Yogyakarta adalah salah satu kota yang menjadi destinasi wisata yang cukup besar, ada baiknya apabila busnya ditambah” imbuhnya.

Dikarenakan Bus Heritage Track ini hanya memiliki 2 armada, maka disarankan kepada penumpang untuk terlebih dahulu mendaftarkan diri sebelum ke lokasi, agar mendapatkan tempat dan jam yang sudah ditentukan.


Kondisi Perekonomian Warga Sekitar Moda Transportasi di Haurgeulis-Indramayu Setelah Covid-19 Mereda

 Oleh: Umar


Terminal Haurgeulis; Sumber Foto Pribadi

Pandemi covid-19 sudah tidak asing lagi didengar. Kasus covid-19 yang merupakan pandemi global menimbulkan kekhawatiran dari berbagai kalangan, Pandemi yang terjadi di Indonesia sejak tahun 2020 ini sempat membuat kondisi perekonomian tertahan dan tertekan, khususnya para pedagang di area sekitar stasiun Kereta Api Indonesia (KAI). Namun, semenjak awal tahun 2022 lalu, nampaknya pandemi covid-19 mulai mereda.

Meredanya pandemi covid-19 ini membuat perekonomian Indonesia berangsur pulih. Tidak hanya itu, mobilitas warga pun berangsur ramai kembali, termasuk animo para pengguna kereta api. Dampak positif dari meredanya covid-19 sangat dirasakan oleh juru parkir yang berada di sekitar stasiun kereta api Haurgeulis Kabupaten Indramayu. Fiqih yang kurang lebih dua tahun menjadi tukang parkir ini mengatakan bahwa pendapatannya melonjak setelah pandemi ini mereda.

“Saat masih pandemi pendapatan saya perhari hanya sekitar 180 ribu, tetapi setelah pandemi ini mereda, perhari saya bisa mendapatkan hampir 400 ribu” ucapnya.


Suasana Terminal Haurgeulis; Sumber Foto Pribadi

Hal menyenangkan ini pun dirasakan oleh Selvina, 23 tahun, yang sudah menjadi karyawan Roti O selama 3 tahun yang berjualan di dalam stasiun Haurgeulis.

“Menurut saya saat pandemi mereda ini, kondisi berangsur normal karena tidak ada lagi pembatasan sosial sehingga penumpang di stasiun meningkat, dan kondisi ini memengaruhi penjualan Roti O yang kembali ramai.” Tuturnya dengan mantap.

Ternyata kondisi ini pun tidak hanya dirasakan oleh pedagang dan tukang parkir yang berada dekat dengan stasiun, tetapi dirasakan juga oleh karyawan Yomart Minimarket yang kondisinya berada sekitar kurang lebih 20 meter dari stasiun.

“Meredanya covid tentu saja itu bagus karena sangat berdampak dengan dunia perdagangan khusunya dunia retail, di mana semenjak adanya covid semua usaha jadi terbatas karena banyak aturan yang harus kita patuhi dan membuat dampak besar terhadap dunia retail.” Ungkap Risti yang sudah bekerja menjadi karyawan Yomart selama 11 tahun.

Dia pun mengatakan bahwa untuk pendapatan sangat jauh berbeda dari sebelum dan sesudah pandemi, karena memang untuk Yomart stasiun sebelum pandemi hanya membuka satu sift sekitar 10 jam saja,

“Baru di tahun ini kita buka normal dari jam 7 sampai jam 10 malam dan tentunya dampak terhadap penghasilannya akan lebih besar karena penumpang pun mengalami kenaikan yang signifikan disaat pandemi mereda.” Imbuhnya dengan semangat.

Untuk perbedaan aturan, menurutnya tidak ada sama sekali karena mereka mengikuti aturan dari pemerintah dan aturan dari Yogya Group. Perihal aturan dagang dimasa pandemi, pihak KAI tidak pernah mempermasalahkan aturan yang sudah dibuat dalam hal perdagangan.

Menurut Iim, salah satu penumpang yang sering menggunakan moda transportasi KAI, meredanya covid-19 ini sangat membantu dalam menggunakan kereta api,

“Tidak perlu test antigen atau PCR lagi, cukup dengan mematuhi prosedur kesehatan. Meskipun regulasi tes sebelum naik kereta terkadang membuat bingung dan biaya naik kereta bertambah” keluh mahasiswa di salah satu kota ternama di Jawa Barat ini.

Sebagai penumpang yang minimal satu bulan sekali menggunakan kereta ini, saat pandemi mereda, ia menjadi berani membeli lebih banyak makanan ringan di area sekitar stasiun yang sebelumnya hanya berani membeli minuman saja karena ada larangan makan di dalam kereta.



Suasana Terminal Haurgeulis; Sumber Foto Pribadi

Meredanya virus covid-19 ini pun tak hanya berpengaruh terhadap mobilitas warga sekitar stasiun kereta api saja, tetapi juga terjadi pada moda transportasi lain seperti terminal Haurgeulis. Ibu Acih, pedagang sekitar terminal Haurgeulis merasakan perbedaan pendapatan yang signifikan saat sebelum dan sesudah adanya covid-19.

“Waktu covid-19 sedang parah-parahnya, penjualan sangat sepi karena tidak banyak penumpang yang naik Bus di sini, sehari dapat 50 ribu saja sudah sangat bersyukur” ujar perempuan paruh baya tersebut. Menurutnya, kondisi warung kecilnya tetap bertahan sampai saat ini pun merupakan hal yang luar biasa.

Harto, lelaki berumur 40an yang sudah sepuluh tahun menjadi supir Bus ini merasakan bahwa covid-19 sangat mengubah hidupnya. “Pekerjaan supir kan selalu berpergian, sejak ada PSBB, saya benar-benar di rumah saja, memutar otak untuk mendapat penghasilan lain.” Keluh supir Bus Karawang Indah tersebut. Ia sempat mencoba berjualan mengikuti jejak teman supirnya yang lain, tetapi tetap hasil jualan pun tidak seberapa karena rata-rata orang begitu takut untuk membeli sesuatu.

Ternyata meredanya Covid-19 sangat terasa oleh semua kalangan. Perbedaan saat covid-19 melanda dengan sesudah virus itu mereda begitu signifikan memengaruhi kehidupan terutama ekonomi warga sekitar stasiun dan terminal yang berada di Haurgeulis Kabupaten Indramayu.


Jalan Berliku Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta

 Oleh: Ilham Fachrizal


Foto di Pesantren Waria; Sumber Pribadi

Di Kota Yogyakarta saat ini terdapat sebuah pondok pesantren yang khusus untuk menampung para transpuan. Pondok pesantren ini bernama pondok pesantren waria Al-Fatah, meskipun begitu pondok ini juga terbuka untuk masyarakat umum. Sampai saat ini terdapat sekitar 62 santri transpuan yang tergabung di pondok pesantren waria Al-Fatah Yogyakarta. Di pondok pesantren yang didirikan pada tahun 2008 ini para waria atau transpuan tidak hanya dibekali dengan ilmu agama saja tetapi juga diajarkan keterampilan memasak, kerajinan tangan dan juga ketrampilan lainnya.

Pondok pesantren yang terletak di Kotagede, Banguntapan, Bantul, DIY ini memiliki tujuan untuk memperjuangkan hak para transpuan terutama dalam beribadah. Shinta Ratri selaku pimpinan Pondok Pesantren mengatakan, para waria sering ditolak ketika ingin beribadah di masjid, itulah salah satu alasan mengapa dia mendirikan Pondok Pesantren ini untuk menampung para waria atau transpuan tersebut dalam beribadah.

“Tantangannya bagaimana kami memperjuangkan hak untuk ibadahnya kawan-kawan waria, masih ada beberapa kelompok yang tidak membolehkan waria itu beribadah alasannya sebelum tobat dulu menjadi laki-laki” ucap transpuan berusia 60 tahun itu.

Namun tujuan baik didirikannya pondok pesantren waria ini ternyata tidak selamanya berjalan mulus, mereka harus melalui berbagai rintangan panjang. Pada tahun 2016 pondok pesantren waria Al-Fatah Yogyakarta sempat ditutup selama 4 bulan, keputusan penutupan pondok pesantren waria Al-Fatah ini diambil karena pondok pesantren ini tidak memiliki izin dan dinilai meresahkan warga setempat.

Front Jihad Islam (FJI) adalah kelompok ormas yang menuntut penutupan pondok pesantren waria ini. Mereka menuding bahwa pondok pesantren waria Al-Fatah sedang membuat fiqih yang mendukung gerakan LGBT. Namun anggapan itu ditepis oleh Ustadz Arif yang telah mendampingi para waria dalam kegiatan keagamaan sejak tahun 2010.

“Alasan mereka datang ke sini karena pesantren waria mau membuat fiqih waria, yang kemudian diplintir itu fiqih waria dikonotasikan ada upaya untuk melegalkan pernikahan sesama jenis, itu omong kosong” ucap Aris.

Berkat kegigihan Shinta Ratri serta bantuan dari berbagai lembaga, bahkan dukungan dari perguruan tinggi agama Islam dan sekolah ilmu Al-Quran, pondok pesantren waria Al-Fatah masih tetap eksis dalam melaksanakan kegiatan keagamaan hingga saat ini meski mengalami berbagai penolakan oleh beberapa kelompok masyarakat.

Belum semua kalangan mampu menerima adanya perbedaan di tengah masyarakat. Diskriminasi masih menjadi persoalan serius terutama bagi negara multietnis dan multikultural seperti Indonesia. Bahkan di Kota Yogyakarta yang terkenal akan budaya keramahtamahannya ternyata masih memiliki persoalan diskriminasi tersebut.

“Kami membawa jargon bahwa waria itu juga manusia yang punya hak untuk beribadah, karena menurut kami Islam itu rahmatan lil alamin menjadi rahmat seluruh alam termasuk juga kawan-kawan waria itu” imbuh Shinta Ratri.


Upaya Memajukan Potensi Pariwisata di Kota Klaten

 Oleh: Ilham Fachrizal


Gambar Ilustrasi; Sumber: foto bbc.com

Pemkab Klaten terus mendukung pembangunan wisata di desa-desa yang terletak di Kabupaten tersebut. Salah satunya adalah pengembangan wisata di Desa Kepurun. Desa Kepurun sendiri adalah desa yang  memiliki sumber daya alam yang mendukung terutama sumber mata air.

Ketua Perencanaan dan Pembangunan Desa Kepurun, Priyono mengatakan, Pemkab Klaten memberikan bantuan sebesar Rp50 juta untuk pembangunan kolam renang. “Atas inisiatif Karang taruna, kita mengembangkan untuk membuat kolam renang untuk anak dan untuk dewasa ,dan nanti akan dipadukan dengan potensi kuliner yang ada di desa”, Ucap Priyono.

Pembangunan kolam renang di Desa Kepurun sudah dilakukan sejak tahun 2018, namun sempat terkendala pandemi Covid-19 saat pembangunannya. Kini pembangunan kolam renang Desa Kepurun sudah mulai dilanjutkan lagi dan rencananya akan selesai di tahun 2022.

Senada dengan yang dilakukan Pemkab Klaten, Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Klaten terus mengupayakan pemulihan sektor pariwisata sejak pandemi covid mulai mereda. Berbagai upaya dilakukan untuk memikat kembali wisatawan yang sempat absen selama masa pandemi covid-19.

Selain mempercantik destinasi wisata yang sebelumnya memang sudah ada, Pemkab Klaten juga meresmikan beberapa destinasi wisata baru di kota bersinar tersebut. Salah satunya adalah wisata Girpasang yang terletak di Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten. Objek wisata dengan ikon jembatan gantung sepanjang 120 meter ini, kini mampu bersaing dengan objek wisata lain di kota Klaten. Bahkan pendapatan dari hasil wisata di daerah tersebut bisa mencapai Rp75 juta per bulan. “Pendapatan dari gondola itu sekitar Rp75 juta per bulan. Tiket naik per orang itu Rp15 ribu”, ucap Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Tegalmulyo, Subur.


Gambar Ilustrasi; Sumber: foto Jatengprov.go.id

Rosyid, salah satu wisatawan yang datang dari Gantiwarno, Klaten mengatakan penasaran akan pesona Girpasang yang viral setelah dibicarakan banyak orang dan baru pertama kalinya datang ke tempat tersebut.

 “Tujuan datang ke Girpasang karena penasaran dan kebetulan ada teman yang mengajak datang kesini” ucap Rosyid, Minggu, 17 Juli 2022.

 Menurut Rosyid, tiket untuk masuk objek wisata Girpasang sangat murah.

 “Tadi saya hanya membayar Rp.2000 untuk masuk kesini” imbuh Rosyid.

Sementara itu Nanda, wisatawan asal Manisrenggo, Klaten juga mengatakan baru pertama kali mengunjungi objek wisata Girpasang.

“Saya baru pertama datang kesini, sebelumnya saya pernah sampai ke deles ternyata jaraknya lumayan dekat” kata Nanda

Menurut Nanda, akses yang dilalui untuk sampai ke objek wisata Girpasang cukup sulit.

“Ketika melewati jalan Pasar Kembang mulai banyak truk-truk muatan pasir yang melintas, itu menyulitkan perjalanan saya datang kesini” ujarnya.

Pemkab Klaten juga terus mengupayakan pembenahan akses menuju tempat wisata. Pemkab Klaten bersama Perum DAMRI saat ini secara resmi telah meluncurkan armada yang akan melayani wistawan untuk berkunjung ke lokasi wisata. Upaya kerjasama dengan Perum DAMRI  tersebut adalah salah satu langkah untuk meningkatkan sektor pariwisata di Kabupaten Klaten supaya dapat terintegrasi dengan wisata di kota lain.

Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Klaten, Sri Nugroho mengatakan penataan pariwisata di Kota Klaten saat ini mengarah pada single destination tourism. Hal ini mengacu pada kebijakan Pemerintah Pusat terkait pengembangan kawasan strategis pariwisata nasional Borobudur-Yogyakarta-Prambanan, dimana Klaten masuk di dalamnya.

“Tujuannya Klaten menjadi destinasi utama bagi wisatawan, bukan lagi tujuan lanjutan dari kunjungan wisata sebelumnya. Jadi menarik wisatawan untuk berkunjung dan menyediakan fasilitas penunjang yang memadahi. Misal rombongan wisatawan ke Girpasang, tidak mungkin bus ukuran besar naik ke lokasi, harus ada lokasi parkir di desa di bawahnya, naiknya bisa dengan jeep yang dikelola masyarakat sekitar. Sehingga memunculkan potensi lokal, demikian juga dengan destinasi wisata lainnya”, imbuh Sri Nugroho.

 



Strategi KAMMI UII dalam Memperoleh Dana untuk melaksanakan Dauroh Marhallah

 Oleh: Hendi Akbar

Gambar Ilustrasi; Sumber: Logo KAMMI


Penggalangan dana merupakan sebuah cara sederhana  yang sering digunakan lembaga sosial masyarakat atau pun organisasi untuk mendapatkan biaya guna memperlancar program kegiatannya. Terlebih masyarakat Indonesia yang banyak serta memiliki rasa empati yang cukup tinggi terhadap orang yang terkena bencana atau pun sejenisnya menjadikan penggalangan dana ini efektif dilakukan.   Kesatuan aksi mahasiswa muslim Indonesia UII merupakan lembaga sosial masyarakat yang berisikan para pemuda muslim.

Daurah Marhallah ini merupakan kegiatan bagi calon kader KAMMI UII, dimana dalam kegiatannya berisi pengenalan tentang organisasi KAMMI serta beberapa paparan materi keagamaan ataupun kebangsaan. Andi Samega selaku ketua KAMMI UII “ kegiatan yang membutuhkan dana yang besar seperti Daurah Marhallah, mengapa kegiatan ini membutuhkan dana yang besar, itu karena kami mengundang pemateri yang profesional, jadi untuk fee dari pematerinya cukup besar, misal bisa sampai 1 juta, selain ada sewa menyewa tempat, alat dan kebutuhan yang diperlukan.” ucapnya.

Daurah Marhallah ini merupakan salah satu kegiatan penting yang diadakan setiap tahunnya dan kegiatan ini  membutuhkan dana  yang tidak sedikit. Andi Samega selaku Ketua KAMMI UII menjelaskan “ Dari organisasi kami sendiri ada berbagai hal untuk mendapatkan dana, pertama dengan menjual pakaian seperti baju organisasi, kemudian kedua bekerjasama dengan kader yang memiliki bisnis pribadi, selain  itu kami juga membuat  proposal pengajuan dana yang kami kirimkan kepada alumni.” ucapnya. Dalam kegiatan daurah marhallah ini merupakan salah satu kegiatan KAMMI UII yang besar, hal ini juga dijelaskan oleh

Dalam memperoleh dana tentu banyak kendala yang diterima, dimana salah satunya adalah dana yang ditargetkan tidak sesuai sehingga terdapat  krisis dana. Namun Andi Samega selaku ketua KAMMI UII  menjelaskan bahwa “ Alhamdullilah dalam setiap kegiatan kami selalu memperoleh dana yang ditargetkan, misal dana yang didapat kurang, tetapi saat mendekati acara ada saja dana yang kami terima, entah itu dari panitia yang inisiatif memberi, atau dari para alumni.”ucapnya. 


Mengakses Informasi Futsal Indonesia Saat Meroketnya Prestasi Timnas

 Oleh: Fadzlurahman

Berbicara olahraga “si kulit bundar”, sorotan tentunya selalu ada pada sepakbola. Namun seiring dengan perkembangan zaman, futsal menjadi alternatif olahraga yang menarik untuk digeluti. secara resmi sejarah futsal Indonesia dimulai pada tahun 2002 ketika Indonesia di tunjuk AFC (Asian Football Confederation) untuk menyelenggarakan putaran final kejuaraan futsal tingkat asia di Jakarta. Meskipun begitu, perkembangan futsal di Indonesia masih bisa dikatakan “tanpa perhatian”. Sebab saat itu tidak banyak media yang memperhatikan olahraga tersebut. Seiring perkembangan waktu sudah mulai sedikit banyak media memberikan informasi mengenai futsal tanah air walaupun masih banyak keterbatasan mengenai informasi yang didapat.



Gambar ilustrasi penikmat futsal tanah air; Sumber:

Jika melihat dari segi eksistensi dan prestasi perkembangan futsal di tanah air saat ini terutama pada sektor putra tidak bisa dipandang sebelah mata. Setelah begitu lama absen pada pergelaran piala AFC, akhirnya timnas futsal Indonesia akan kembali bersaing di kejuaraan tersebut setelah menjadi runner up pada gelaran piala AFF kemarin di Thailand. Secara eksistensi kompetisi professional futsal Indonesia juga selalu diadakan rutin tiap tahunnya. Ditambah dengan hadirnya mega bintang asal Portugal Ricardinho menambah eksistensi liga futsal tanah air. Ricardinho dianggap sebagai pemain futsal terbaik sepanjang sejarah, permainan mentereng dan trofi yang ia torehkan membuat pecinta futsal Indonesia bahkan dunia terkagum-kagum. Dengan hadirnya Ricardinho perfutsalan Indonesia akan banyak diberitakan di media-media ternama dunia bahkan ditonton oleh pecinta futsal di seluruh penjuru dunia. Di pergelaran liga futsal Indonesia sebelumnya euphoria penonton tak terlalu semarak, hanya ada beberapa tim terkenal dengan skuad mentereng yang mampu menarik antusiasme penonton. Hadirnya Ricardinho diharapkan mampu menarik antusias penikmat futsal tanah air untuk mengikuti perkembangan futsal tanah air. tidak cuman timnas namun juga liganya. Tak hanya klub yang terkenal, namun seluruh peserta Liga Futsal Indonesia.

“saya sebagai anak kelahiran dua ribu satu baru mengenal futsal saat berada di kelas dua SMP. Jadi, saya tidak terlalu mengetahui perkembangan futsal Indonesia dari awal. Namun sedikit banyak saya mengetahuinya, akan tetapi saya lebih mengatui detail futsal sejak Bambang Bayu Saptaji atau yang biasa kita sebut BBS mulai tenar di perfutsalan tanah air. Saat itu saya tanpa sengaja melihat berita di koran tentangnya yang akan bermain ke luar negeri. Saat itu juga rasa ingin tahu saya tentang futsal indonesia semakin bergejolak. Merasa tidak cukup dengan membaca koran saja, akhirnya saya putuskan untuk pergi ke warnet untuk mengakses situs bolalob yang sebelumnya tertera di koran yang saya baca. Di situlah saya menemukan banyak sekali informasi tentang futsal Indonesia. Ada juga sih juga sih seperti MNC TV yang menyiarkan liga futsal Indonesia saat itu, namun hanya sekedar menyiarkan pertandingannya saja. Tapi di situs bolalob ini kita dapat mengakses sejarah futsal di Indonesia, timnas, biodata pemain, biodata tim-tim futsal yang berlaga di liga futsal professional Indonesia”. Berikut yang sampaikan oleh Dipo sebagai penikmat futsal tanah air.

Hal tersebut dibenarkan oleh Sutan. Saat itu ia juga mencari informasi terkait futsal tanah air di situs bolalob juga. Namun untuk sekarang ini sudah banyak sekali media-media yang memberitakan tentang futsal tanah air.

“untuk saat ini sudah banyak sekali media yang memberikan informasi terkait perkembangan futsal indonesia terutama di Instagram. Bahkan bolalob sekarang juga sudah mempunyai akun instagramnya sendiri. Saya juga mengetahui informasi-informasi futsal kebanyakan melalui intagram juga, tapi saya lebih sering mengaksesnya melalui akun galeri futsal daripada bolalob. Itu selera masing-masing sih, kadang informasi yang diberikan juga sama kok”. Ungkap sutan

Tidak hanya dari akun bolalob dan galeri futsal saja. saat ini kita juga dapat mengakses informasi-informasi futsal Indonesia melalui akun-akun media sosial para pemain dan timnya. Dengan begitu kita akan selalu update mengenai perkembangan futsal tanah air. Perkembangan media yang sedemikian rupa, pada akhirnya nanti akan memberikan dampak positif bagi para penikmat futsal tanah air. Hal tersebut merupakan sebuah proses yang begitu pesat mengenai futsal tanah air untuk mencapai perkembangan semaksimal mungkin.


Konser Online Solusi di Tengah Pandemi

 Oleh: Rifka Annisa


Gambar; Foto Pribadi

Pandemi covid-19 yang berlangsung sejak awal 2020 sehingga membuat seluruh kegiatan yang mengumpulkan banyak orang harus berhenti total. Sektor hiburan menjadi salah satu yang terkena dampak, tertutama acara yang digelar secara langsung (live) yang menghadirkan banyak penonton seperti konser. Terdapat rasa kecewa di hati penikmat musik ketika mengetahui bahwa konser-konser musik sang idola ditunda atau bahkan dibatalkan. Para musisi di seluruh dunia pun memutar otak agar tetap bisa berkarya dan terhubung dengan para penggemar mereka. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menggelar konser secara virtual.

Pagelaran musik secara virtual atau online ini menggunakan perantara daring, dimana musisi dan penonton bertemu secara tidak langsung lewat platform streaming. Konser semacam ini kian populer sejak adanya pandemi dan di prediksi akan berlanjut menjadi tren. Berdasarkan laporan dari perusahaan riset hiburan MIDiA berjudul Virtual Concert: A New Video Format, pangsa konser vitual sejak Juni-November 2020 naik drastis dari angka 1,9 persen ke 40,7 persen menurut Bandsintown sebuah platform yang menginformasikan acara konser disekitar lokasi pengguna.

Tidak dipungkiri terlaksananya konser secara virtual ini karena support dari para pecinta musik, mereka yang telah lama tidak menyaksikan konser sedikit terobati rasa rindunya dengan hadirnya konser online. Mahasiswi D3 Poltekes Surakarta Dania Astri menceritakan pengalamannya selama pandemi menonton konser secara virtual. Meski melalui perantara media Dania tetap merasa senang karena kerinduannya melihat sang idola perform dapat terwujud.

“Buat ngobatin rasa kangen aku sama konser biasanya aku cari-cari di instagram atau tiktok tentang info tiket konser virtual gitu. Rasanya seneng bisa nonton konser walaupun cuma sekedar lewat online gini. Disisi lain aku juga lumayan untung karena tiket nya kan ngga terlalu mahal, terus bisa aku tonton sambil tiduran”, ucap Dania sambil tertawa.

Tidak hanya melihat seorang diri, terkadang Dania meikmati konser online dengan mengajak saudara ataupun keponakannya, hal itu dia lakukan untuk mengatasi kebosanan karena tidak ada tepuk tangan meriah dari penonton, selain itu Dania juga menyambungkan streaming online konser tersebut melalui TV kabel.

“Kadang-kadang kalau saudara sama keponakan kumpul aku suka ngajakin nonton bareng lewat TV biar lebih meriah ada suara tepuk tangan sama teriakan dikit, jadi sedikit heboh biar kesannya kaya konser offline”, tambah Dania.

Hal yang sama dirasakan oleh Diah Kartikasari, sama-sama menjadi mahasiswa D3 Analisis Farmasi dan Makanan di Poltekes Surakarta, wanita yang akrab di sapa Sari ini juga menikmati konser virtual. Namun disisi lain dia tidak merasakan vibes konser sesungguhnya karena tidak datang langsung ke lokasi. 

“Selama pandemi ini aku liat konser secara streaming sih biasanya. Konser virtual ini menurutku cukup menghibur dimasa pandemi gini buat ngisi waktu luang kalo lagi dirumah. Apalagi waktu ngerjain tugas akhir kan butuh selingan hiburan jadi konser online cukup menghibur kepenatan aku. Cuma euphoria nya kurang dapet beda gitu sama offline yang ramai-ramai banyak penontonnya, biasanya kalau mau nonton konser aku selalu nyiapin outfit, ini engga ya nyantai aja pakai kaos sambil nyemilin jajan. Nontonnya juga kurang puas karena cuma lewat laptop ga keliatan jelas”, ungkap Sari.

Hal berbeda dirasakan oleh Fahrul Amri lelaki lulusan Teknik Informatika negeri Jiran Malaysia ini menjelaskan bahwa dia tidak terlalu menyukai konser online karena terkesan seperti melihat youtube. Bahkan selama pandemi dia hanya meononton satu konser online namun tidak dia tuntaskan hingga akhir acara.

“Selama pandemi aku jarang melihat konser online sih, cuma sekali aja dan itu ga aku selesaiin sampai akhir karena udah keburu bosen cuma duduk doang depan laptop. Karena menurutku itu buang-buang uang, pertama euphorianya kurang dapet, kedua bosen cuma duduk doang malah yang ada ngantuk, ketiga konser online itu nanti bisa diakses lagi lewat youtube karena biasanya itu di save jadi beli tikernya rugi”, ucap lelaki bertubuh gempal tersebut.

Selain itu ada pula Haifa seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi semester 6 mengungkapkan perasaan kecewanya selama menonton konser hanya melalui virtual.

“Jujur selama tidak diperbolehkannya konser offline ini aku kurang semangat ya nonton konser online, rasanya beda banget karena kan kalo konser offline bisa ketemu orang baru, ngerasain panasnya desek-desekan sama penonton lain bahkan kalau outdoor kehujanan juga, kalau online berasanya kaya kuliah daring.” ungkap Haifa.

Tidak hanya itu, meski menyaksikan konser virtual bersama teman-teman Haifa tetap merasakan bosan dan tidak menikmati berlangsungnya konser.

“Pernah sekali lihat dikosan bareng temen cuma ya rasanya tetep aja sama, bosen nggak seru bawaannya ngantuk, menurutku plusnya sih kalau ngantuk apa capek duduk bisa langsung bisa tidur dikasur ya hehe” ujarnya.

Konser Offline Dinanti

Konser offline jelas sangat dinantikan oleh para penikmat musik baik dalam negeri maupun luar negeri karena saat ini pemerintah telah melonggarkan aturan untuk mengadakan event konser dan ekonomi kreatif.  Hal ini menyusul perkembangan kondisi pandemi yang semakin membaik. Dilansir dari liputan6.com (27/3) Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyampaikan bahwa konser dapat digelar dengan syarat menerapkan protokol kesehatan serta vaksinasi lengkap. Kabar tersebut disambut baik oleh keempat narasumber tersebut, Haifa rela jauh-jauh ke Bandung menyaksikan konser offline demi menebus rasa rindunya selama 2 tahun ini yang tidak bisa untuk datang langsung ke lokasi.

“Beberapa waktu yang lalu sekitar awal Juni aku dadakan banget ke Bandung karena dikasih tiket konser gratis sama temen. Aku rela jauh-jauh ya karena emang udah kangen banget nonton konser offline apalagi kan sekarang pemerintah udah ngebolehin jadi sayang banget kalo sampe aku lewatin penyanyi yang tampil pun juga banyak dan keren-keren kaya BCL, Kunto Aji, Noah jadi ya momen ini bener-bener yang aku tunggu selama 2 tahun ini”, ungkap Haifa.

Tidak hanya sebagai penikmat musik jazz dan pop Haifa juga menyatakan kebahagiaannya saat melihat konser dangdut asal Jogja yang baru saja diadakan di Auditorium UMY.


Gambar; Foto Pribadi

“Tanggal 30 Juni kemarin aku juga baru aja liat Guyon Waton di UMY, kebetulan aku orang jawa dan suka juga sama lagu dangdut jadi asik gitu bisa goyang di tengah kerumunan orang”, pungkas Haifa diiringi gelak tawa.

Sama dengan Haifa, Arul juga tidak ingin melewatkan momen berharga ini. Setelah 2 tahun dia hanya melihat konser secara virtual kali ini dia begitu senang karena sudah dapat menonton konser secara langsung. Arul mengungkapkan kebahagiaannya saat menonton prambanan jazz karena konser tersebut selalu dia nantikan tiap tahun.


Gambar; Foto Pribadi

“Setelah 2 tahun ga dibolehin konser offline, kemarin perdana liat prambanan jazz setelah dilonggarkan aturan sama pemerintah, pastinya seneng banget sih, karena aku kan orang Klaten jadi mumpung deket dan offline aku langsung gas nonton”, tutur Arul.

Meskipun belum sempat menonton konser offline setelah pemerintah melonggarkan aturan mengenai izin penyelenggaraan konser Sari telah membeli tiket di akhir tahun untuk menyaksikan penyanyi idolanya. “Sampai saat ini aku belum nonton konser offline lagi ya, tapi aku udah pesen tiket buat lihat Justin Bieber di akhir tahun”, ungkap Sari.

Sebagai penikmat musik dan penggemar lagu-lagu pop dan jazz tentu Dania tidak ingin melewatkan momen ini. Wanita berlesung pipit tersebut telah melihat beberapa konser offline di sekitar Jogja dan Solo. “Udah ada 4 konser sih sejauh ini yang aku lihat, kaya Tulus, Feby Putri, Vierratale, sama Fiersa Besari”, katanya. 




Rilisan Fisik yang Masih Menarik

Oleh: Aldi Faik

Gambar Ilustrasi; Foto Pribadi


Siapa bilang rilisan fisik di industri musik sudah tidak menarik? Nyatanya sebagian orang masih berkeinginan untuk memilikinya. 

 

Kebanyakan orang yang tertarik dengan dunia musik sudah pasti mengenal album sebagai wujud rilisan fisik. Album sendiri merupakan bentuk hardfile dari kumpulan lagu yang biasanya berisi sekitar 8 hingga belasan track. Lagu-lagu yang sudah terkumpul, akan disatukan kedalam satu album yang kemudian diberi nama. Hadirnya rilisan fisik berupa album, dirasa sangat memudahkan penikmat musik agar bisa mendengarkan lagu-lagu dari penyanyi yang disuka.

 

Sadar atau tidak, hampir setiap tahun ada saja penyanyi baik solowis atau yang tergabung dengan band musik bergantian dalam  merilis rilisan fisik. Hal ini menunjukan bahwa eksistensi musik masih menjadi sesuatu yang menarik dimata masyarakat. Seperti yang dirasakan oleh Fonda “Saya ini salah satu penikmat musik, terutama musik atau lagu-lagu Korea. Mungkin karena penyanyinya ganteng dan musiknya cocok ditelinga saya makanya saya jadi suka” tutur mahasiswa UPNVY itu. Ketika disinggung terkait rilisan fisik atau album idola, Fonda mengaku pernah sekali membeli album K-Pop dari luar negeri “Pernah sekali saya membeli album idola saya yaitu NCT. Saya beli album tersebut lewat shopee. Meskipun mahal tapi saya berusaha ngumpulin uang agar bisa membeli album idola saya ini” tuturnya. Hal serupa juga dialami oleh Sefira “Setau saya harga album itu lumayan mahal, kira-kira Rp. 300.000 an lebih lah, pas saya beli album itu saya sampai nabung dicelengan khusus agar duitnya bisa kekumpul” ucap mahasiswa teknik pertambangan itu.

 

Harga album K-Pop yang terbilang cukup mahal tidaklah menjadi kendala bagi seorang penggemar yang benar benar mencintai dan ingin memiliki album musik idolanya. Dengan modal yang dikeluarkan, pembeli rilisan fisik ini akan mendapatkan album yang berisi kumpulan lagu, photocard, dan juga poster. Hal ini sekaan menjadi magnet dan daya tarik tersendiri bagi seorang penggemar musik K-Pop. Bahkan, tak jarang pula ada orang yang gemar mengoleksi album K-Pop. “Saya termasuk penggemar K-Pop yang sering membeli album idola saya yaitu NCT. Ada beberapa koleksi album yang saya miliki. Biasanya kalau album baru dirilis, saya akan membelinya. Untuk album yang lama saya simpan saja, namun ada beberapa yang saya pajang di kamar” jelas Nada yang sehari hari berkegiatan sebagai mahasiswa kedokteran di UGM.

 

Berdasarkan hasil penelusuran, ternyata minat seseorang terhadap rilisan fisik ini masih terbilang tinggi, khususnya pada musik luar negeri. Fenomena ini disoroti juga oleh Fachrul yang merupakan vokalis dari band UMC. “Menurut saya kegemaran masyarakat Indonesia terhadap musik K-Pop masih terbilang wajar ya. Karena setiap orang kan punya selera musik yang berbeda, dan selera tersebut tidak bisa disamaratakan” Ucap Fachrul. “Namun, jika dimintai saran saya ingin berpesan kepada masyarakat Indonesia terutama generasi muda agar bisa menyukai musik karya anak bangsa juga, intinya jangan sampai melupakan produk lokal lah, seperti itu” tambahnya. 

 

Dari sini, dapat ditarik kesimpulan bahwa, rilisan fisik masih menjadi hal yang menarik bagi sebagian penikmat musik. Terlebih musik-musik luar negeri seperti musik K-Pop yang mendapatkan tempat khusus dimata penggemarnya. Bahkan para penggemar musik K-Pop rela mengeluarkan modal demi membeli rilisan fisik idolanya.

 


Tidak Hanya Perempuan, Tetapi Laki-Laki Juga Bisa Jadi MUA dan Perawat

 Oleh: Nifala Rizki


Kesenjangan dalam dunia pekerjaan saat ini memang masih dipandang sebelah mata, karena hal tersebut dianggap bertolak belakang dengan konstruksi profesi pada zaman dulu yang masih dianut oleh negara kita, dimana dalam hal ini dibentuk secara sengaja oleh konstruksi sosial masyarakat kita. Terdapat banyak profesi yang masih dikaitkan dengan gender tertentu, misalnya polisi diidentikan dengan profesi laki-laki, sedangkan untuk perawat identik dengan pekerjaan perempuan dan lain sebagainya.

Banyaknya profesi yang dikait-kaitkan dengan gender, tetapi malah membuat banyak orang sudah melakukan breaking stereotype terhadap hal tersebut, akan tetapi malah mendapatkan diskriminasi dari lingkungan mereka. ILO (Organisasi Perburuhan Internasional) pada tahun 2013, juga menunjukkan hal yang sama, dimana status dan formalitas pekerjaan berperan penting dalam terjadinya diskriminasi gender, apalagi jika profesi tersebut selalu diidentikkan dengan suatu gender tertentu.


Gambar Ilustrasi; 

“Kalo dipandang sebelah mata banyak ya, terutama sama ibu-ibu. Padahal MUA sendiri tidak terbatas soal gender, karena MUA ini sebuah seni merias wajah. Kita beranggapan bahwa wajah seseorang adalah kanvas dan kita tidak membeda-bedakan laki-laki ataupun perempuan.” Ucap Zahrul sebagai MUA.

Zahrul adalah salah satu orang yang melakukan breaking stereotype terhadap konstruksi sosial tentang kesenjangan profesi saat ini. Ia sudah menjadi MUA sekitar 3 tahun lamanya dengan ikut di beberapa orang yang telah menjadi mitranya selama ini, melalui sistem freelance.

“Saya biasanya ngambil job setiap hari sabtu dan minggu saja ataupun saat ada callingan. Untuk hari biasanya saya tolak, karena saya juga masih kuliah. Jadi pekerjaan MUA ini untuk kegiatan sampingan.” Ucap Zahrul menambahkan.

Saat ini lingkungan kita masih menggunakan stereotype zaman dulu. Padahal hal itu sudah tidak relevan lagi digunakan di zaman sekarang, karena sejatinya laki-laki dan juga perempuan memiliki kesempatan dan juga kesetaraan yang sama dalam berbagai hal, termasuk juga dalam berprofesi. Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah juga mengatakan yang sama, yaitu laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan yang sama dan harus dihargai bukan berdasarkan gender, melainkan berdasarkan bakat, hasil kerja, dan kompetensi.

“Kalo penilaian atau dipandang sebelah mata itu sering banget. Karena ada beberapa orang yang belum saya makeup-in, tapi sudah menilai kalo hasil make up saya itu jelek, karena saya laki-laki sendiri dan yang lain itu perempuan. Padahal menurut saya hasil make up saya juga nggak kalah sama yang lain. Itu juga yang mungkin ngebuat profesi ini sepi untuk peminat laki-lakinya.” Kata Zahrul.

Mengutip pernyataan pers KemenPPPA dalam liputan6.com (2021) memastikan bahwa tidak hanya kaum perempuan saja dan tetapi juga laki-laki bisa memiliki aksesibilitas terhadap sumber daya, serta dapat berpartisipasi dan terlibat dalam proses pembangunan sesuai dengan kepentingan dan aspirasinya. Tetapi pada kenyataanya sendiri, tidak banyak yang memiliki aksesbilitas yang baik, karena bisa terhambat dari faktor diskriminasi dan pola pikir masyarakat yang telah beredar. Hal itu juga dirasakan oleh Ikhsan sebagai seorangg perawat di suatu rumah sakit.  

“Iya kalo menurutku memang bener profesi ini memang banyak digandrungi kaum wanita namunkan juga tidak ada salahnya juga seorang pria seperti masuk dibidang ini mengingat kebutuhan tenaga kesehatan keperawatan untuk pria sangat dibutuhkan diindonesia dan itu pula yang menjadi alasan saya untuk masuk dalam bidang ini”. ucap Ikhsan menjelaskan.

Berbeda dengan Zahrul yang masih dipandang sebelah mata di lingkungan pekerjaannya, tetapi lingkungan pekerjaan Ikhsan lebih baik dan kondusif akan kesetaraan dalam berprofesi, karena Ikhsan tidak mendapatkan perlakuan buruk dari teman seprofesinya. Tetapi sama juga seperti Zahrul, profesi perawat ini juga masih sepi dalam peminat laki-laki.

“Kalo ditanya alasannya kenapa begitu mungkin sekarang juga sudah banyak pada yang tau bahwa perawat juga bisa diisi oleh laki-laki, namun beda halnya lagi karena kurang ketertarikan kaum laki-laki mungkin yang membuat bidang ini jadi sepi kaum laki-lakinya.” Kata Ikhsan menerangkan.  

Pola pikir tentang konstruksi sosial dalam berprofesi ini sudah mendarah daging di telinga masyarakat dan telah menjadikannya patokan. Oleh karena itu, beberapa profesi yang sering diidentikkan dengan gender tertentu, menjadi sepi peminat, seperti pengalaman yang telah dilakukan oleh Ikhsan dan juga Zahrul, bahwa data laki-laki dalam bidang profesi tersebut bisa dikatakan sepi laki-laki. Padahal setiap pekerjaan memiliki kesetaraan yang sama, tanpa melihat apakah itu seorang perempuan atau laki-laki.

“Untuk mereka yang tidak setuju mengenai kesetaraan gender ini mungkin bisa dibilang pemikirannya kurang terbuka, karena masih memiliki pola pikir zaman dulu, dimana yang berhak bekerja hanya laki-laki aja, sedangkan perempuan mesti di rumah. Karena di zaman sekarang kita, entah laki-laki atau perempuan bebas atas apa yang kita kerjakan selama tidak melanggar aturan dan norma yang berlaku di masyarakat.” Ucap Ikhsan sebagai seorang perawat.

Sebagai generasi muda era millenial ini, harus bisa mengubah persepsi masyarakat yang ada di sekitar kita bahwa, semua orang baik itu laki-laki ataupun perempuan memiliki hak yang sama dalam bidang profesi ini, seperti yang telah dikatakan oleh KMNPP RI (2001) Widayani (2014: 150) bahwa kesetaraan dalam profesi adalah proses yang adil bagi keduanya dan untuk menjaminnya perlu ada tindakan yang bisa menghentikan hal-hal yang secara sosial dan menurut sejarah menghambat perempuan dan laki-laki untuk berperan dan menikmati hasil dan peran yang dimainkannya.  


Menelisik Keindahan Masjid Ulil Albab UII

 Oleh: Fadzlurahman

Universitas Islam Indonesia memiliki sebuah masjid yang menjadi ikon bernama Masjid Ulil Albab. Masjid ini tak hanya populer di kalangan civitas akademika UII namun juga masyarakat di sekitarnya. Masjid ini diresmikan untuk publik pada tanggal 17 Agustus 2001, tepat saat HUT Republik Indonesia. Lokasinya ada di dalam kampus UII di Jl. Kaliurang Km. 14,4, Sleman, Yogyakarta.


Gambar; Foto Pribadi

Begitu masuk ke lingkungan kampus terpadu UII, bangunan masjid ini langsung terlihat. Gaya arsitekturnya begitu megah dan dilengkapi dengan kubah besar berwarna kuning keemasan yang langsung membuat mata terpikat dari kejauhan. Tujuan awal pembangunan masjid ini adalah untuk menyediakan pusat kajian belajar agama bagi civitas akademika UII. Sampai sekarang, masjid ini kemudian dikenal sebagai sebuah simbol atau ikon kebanggaan dari semua civitas akademika UII serta masyarakat di sekitarnya. Bangunan masjid kampus UII tersebut terdiri dari 3 lantai. Untuk lantai pertama digunakan sebagai auditorium yang bernama Auditorium Kahar Mudzakir dan dijadikan sebagai tempat pelaksanaan wisuda. Kemudian lantai kedua merupakan area sholat yang cukup luas dan sangat nyaman untuk dilihat oleh mata. Lalu di lantai ketiga ada area perkantoran yang digunakan oleh para civitas akademika UII.


Gambar; Foto Pribadi

Masjid Ulil Albab ini memiliki bentuk simetris jika dilihat dari bagian depan. Kemudian di bagian belakangnya memiliki bentuk melengkung yang mengingatkan pada bentuk bangunan colosseum di roma. Masjid ini memiliki fasilitas lengkap, salah satunya ada eskalator yang akan mempermudah akses civitas akademika maupun masyarakat yang akan beribadah di sana. Bagian dalam masjid juga sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan sehingga terasa sangat nyaman.

“Masjid Ulil Albab adalah masjid yang memberikan ketenangan, rasa lapang, kejernihan hati, tempat menempa diri mencari essensi. Dengan keindahan tersebut akan menambah eksistensi di kalangan masyarakat dan akan menambah jamaahnya. Mudah-mudahan masjid Ulil Albab turut menjadi poros berkembangnya peradaban masjid melalui insan-insan yang berjamaah di dalamnya”. Ungkap lila salah satu jamaah putri Masjid Ulil Albab.

Masjid Ulil Albab sampai sekarang memiliki pesona kuat di kalangan civitas akademika UII dan masyarakat sekitar. Masjid ini menjadi ikon yang akan selalu melekat dengan Universitas Islam Indonesia. Sampai detik ini masjid tersebut selalu menjadi kebanggaan berkat keindahan dan jasa yang diberikan baik kepada civitas akademika maupun masyarakat yang memanfaatkannya. 


Penerapan Protokol Kesehatan di Tempat Ibadah

 Oleh: Rifka Annisa


Gambar Ilustrasi; Foto Pribadi

Pandemi covid-19 yang melanda dunia sejak 2019 telah memporak-porandakan berbagai lapisan kehidupan. Hal ini semakin diperparah ketika pemerintah dalam rangka memutus rantai penyeberan covid-19 dengan memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSSB). Akibat pemberlakuan PSBB ini maka kantor-kantor pemerintah, pusat perekonomian, tempat pelayanan publik, serta lembaga pendidikan tidak berjalan seperti biasanya. Imbas ini juga dirasakan oleh beberapa tempat ibadah salah satunya adalah masjid Al Aqsha yang terletak di Kota Klaten, Jawa Tengah.

Namun, saat ini pemerintah sudah mulai memberlakukan aturan transisi. Dimana tempat-tempat ibadah umum sudah mulai dibuka, termasuk sejumlah masjid yang ada di beberapa tempat sudah mulai ramai dan dipadati oleh jamaah. Sehingga masjid ini sudah kembali beroperasi pada peran dan fungsinya, walaupun tetap menerapkan protokol kesehatan. Peraturan tersebut ditegaskan oleh kemenag pusat dimana mengeluarkan panduan mengenai beribadah di masjid. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Islam Kementrian Agama (Kemenag) Prof Kamiruddin Amin mengatakan bahwa akan ada panduan atau himbauan baru terkait protokol kesehatan (prokes) hal ini disesuaikan dengan perkembangan zonasi pada masa pandemic Covid-19.

“Saya kira akan ada (panduan, imbauan atau surat edaran baru) karena sudah mulai banyak perubahan zona. Insya Allah dalam waktu dekat akan mengeluarkan untuk merespons realitas yang berkembang, dinamika zonasi yang berkembang," kata Prof Kamaruddin dikutip dari Republika.co.id, Kamis (30/9).

Adanya himbauan dari Kemenag pusat mengenai izin dibukanya tempat ibadah disambut gembira oleh beberapa masjid salah satunya adalah masjid Agung Al Aqsha Klaten. Masjid ini kembali dibuka untuk umum baik beribadah maupun kegiatan keagamaan lainnya. Takmir masjid Agung Al Aqsha Klaten, Samijo mengatakan Masjid Agung Al Aqsha Klaten masih menerapkan protokol kesehatan sepanjang pelaksanaan ibadah meski saat ini pandemi sudah mulai berangsur membaik.

“Untuk tahun ini pengunjung sudah mulai banyak dari luar kota, orang dari ziarah mampir kesini, tapi protokol kesehatan tetap kami laksanakan seperti wajib memakasi masker, jaga jarak waktu sholat, pengecekan suhu, dan membawa alat ibadah sendiri” Ujar Samijo.


Gambar Ilustrasi; Foto Pribadi

Meskipun dijelaskan bahwa masjid Agung Al-Aqsha melakukan penerapan protokol kesehatan namun berdasarkan pantauan reporter hal tersebut kurang sesuai. Terlihat beberapa jamaah tidak mengenakan masker saat memasuki masjid namun dibiarkan oleh takmir dan tidak diberikan teguran ataupun masker. Beberapa hadsanitizer juga hampir habis dan tidak ada isinya. Alat pengecekan suhu tubuh atau thermogun pun tidak difungsikan dengan semestinya hanya dijadikan sebagai pajangan semata. Pada area tempat wudhu pun tidak disediakan sabun mencuci tangan. Saat pelaksanaan ibadah tidak ada pembatasan jarak dalam shaf wanita saat sholat sehingga hal ini tidak sesuai fakta yang ditemukan di lapangan.

Gambar Ilustrasi; Foto Pribadi

Akan tetapi hal ini tidak mengurangi antusiasme masyarakat untuk tetap beribadah di masjid. Berdasarkan pengamatan reporter banyak warga sekitar yang membaca Al-Quran dan melakukan ibadah lainnya di masjid ini. Sementara itu, Anita salah satu pengunjung Masjid Al-Aqsha yang berasal dari Solo mengaku kerap memilih masjid bergaya timur tengah ini untuk dijadikan tempat singgah karena lokasi masjid yang strategis. Ia menilai masjid tersebut juga nyaman karena area parkir yang luas sehingga enak untuk dijadikan tempat istirahat.

“Sengaja mampir kesini karena kebetulan ada acara di Jogja dan lewat sini udah masuk waku maghrib. Al-Aqsha ini kan ada di pinggir jalan dan kita biasa solo-jogja. Sebenernya tidak ada alasan khusus cuma karena satu tempat parkirnya luas, kedua karena akses dari jalan yang kita lewati”. 


Daya Tarik Wisata Edukasi di Yogyakarta (Wisata Taman Pintar dan Bus Heritage Track)

 Oleh: Fathia Annisa Pariwisata merupakan salah satu sumber kehidupan yang tidak bisa dilepaskan di masa sekarang. Di Indonesia sendiri pari...