Rabu, 20 Juli 2022

Tidak Hanya Perempuan, Tetapi Laki-Laki Juga Bisa Jadi MUA dan Perawat

 Oleh: Nifala Rizki


Kesenjangan dalam dunia pekerjaan saat ini memang masih dipandang sebelah mata, karena hal tersebut dianggap bertolak belakang dengan konstruksi profesi pada zaman dulu yang masih dianut oleh negara kita, dimana dalam hal ini dibentuk secara sengaja oleh konstruksi sosial masyarakat kita. Terdapat banyak profesi yang masih dikaitkan dengan gender tertentu, misalnya polisi diidentikan dengan profesi laki-laki, sedangkan untuk perawat identik dengan pekerjaan perempuan dan lain sebagainya.

Banyaknya profesi yang dikait-kaitkan dengan gender, tetapi malah membuat banyak orang sudah melakukan breaking stereotype terhadap hal tersebut, akan tetapi malah mendapatkan diskriminasi dari lingkungan mereka. ILO (Organisasi Perburuhan Internasional) pada tahun 2013, juga menunjukkan hal yang sama, dimana status dan formalitas pekerjaan berperan penting dalam terjadinya diskriminasi gender, apalagi jika profesi tersebut selalu diidentikkan dengan suatu gender tertentu.


Gambar Ilustrasi; 

“Kalo dipandang sebelah mata banyak ya, terutama sama ibu-ibu. Padahal MUA sendiri tidak terbatas soal gender, karena MUA ini sebuah seni merias wajah. Kita beranggapan bahwa wajah seseorang adalah kanvas dan kita tidak membeda-bedakan laki-laki ataupun perempuan.” Ucap Zahrul sebagai MUA.

Zahrul adalah salah satu orang yang melakukan breaking stereotype terhadap konstruksi sosial tentang kesenjangan profesi saat ini. Ia sudah menjadi MUA sekitar 3 tahun lamanya dengan ikut di beberapa orang yang telah menjadi mitranya selama ini, melalui sistem freelance.

“Saya biasanya ngambil job setiap hari sabtu dan minggu saja ataupun saat ada callingan. Untuk hari biasanya saya tolak, karena saya juga masih kuliah. Jadi pekerjaan MUA ini untuk kegiatan sampingan.” Ucap Zahrul menambahkan.

Saat ini lingkungan kita masih menggunakan stereotype zaman dulu. Padahal hal itu sudah tidak relevan lagi digunakan di zaman sekarang, karena sejatinya laki-laki dan juga perempuan memiliki kesempatan dan juga kesetaraan yang sama dalam berbagai hal, termasuk juga dalam berprofesi. Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah juga mengatakan yang sama, yaitu laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan yang sama dan harus dihargai bukan berdasarkan gender, melainkan berdasarkan bakat, hasil kerja, dan kompetensi.

“Kalo penilaian atau dipandang sebelah mata itu sering banget. Karena ada beberapa orang yang belum saya makeup-in, tapi sudah menilai kalo hasil make up saya itu jelek, karena saya laki-laki sendiri dan yang lain itu perempuan. Padahal menurut saya hasil make up saya juga nggak kalah sama yang lain. Itu juga yang mungkin ngebuat profesi ini sepi untuk peminat laki-lakinya.” Kata Zahrul.

Mengutip pernyataan pers KemenPPPA dalam liputan6.com (2021) memastikan bahwa tidak hanya kaum perempuan saja dan tetapi juga laki-laki bisa memiliki aksesibilitas terhadap sumber daya, serta dapat berpartisipasi dan terlibat dalam proses pembangunan sesuai dengan kepentingan dan aspirasinya. Tetapi pada kenyataanya sendiri, tidak banyak yang memiliki aksesbilitas yang baik, karena bisa terhambat dari faktor diskriminasi dan pola pikir masyarakat yang telah beredar. Hal itu juga dirasakan oleh Ikhsan sebagai seorangg perawat di suatu rumah sakit.  

“Iya kalo menurutku memang bener profesi ini memang banyak digandrungi kaum wanita namunkan juga tidak ada salahnya juga seorang pria seperti masuk dibidang ini mengingat kebutuhan tenaga kesehatan keperawatan untuk pria sangat dibutuhkan diindonesia dan itu pula yang menjadi alasan saya untuk masuk dalam bidang ini”. ucap Ikhsan menjelaskan.

Berbeda dengan Zahrul yang masih dipandang sebelah mata di lingkungan pekerjaannya, tetapi lingkungan pekerjaan Ikhsan lebih baik dan kondusif akan kesetaraan dalam berprofesi, karena Ikhsan tidak mendapatkan perlakuan buruk dari teman seprofesinya. Tetapi sama juga seperti Zahrul, profesi perawat ini juga masih sepi dalam peminat laki-laki.

“Kalo ditanya alasannya kenapa begitu mungkin sekarang juga sudah banyak pada yang tau bahwa perawat juga bisa diisi oleh laki-laki, namun beda halnya lagi karena kurang ketertarikan kaum laki-laki mungkin yang membuat bidang ini jadi sepi kaum laki-lakinya.” Kata Ikhsan menerangkan.  

Pola pikir tentang konstruksi sosial dalam berprofesi ini sudah mendarah daging di telinga masyarakat dan telah menjadikannya patokan. Oleh karena itu, beberapa profesi yang sering diidentikkan dengan gender tertentu, menjadi sepi peminat, seperti pengalaman yang telah dilakukan oleh Ikhsan dan juga Zahrul, bahwa data laki-laki dalam bidang profesi tersebut bisa dikatakan sepi laki-laki. Padahal setiap pekerjaan memiliki kesetaraan yang sama, tanpa melihat apakah itu seorang perempuan atau laki-laki.

“Untuk mereka yang tidak setuju mengenai kesetaraan gender ini mungkin bisa dibilang pemikirannya kurang terbuka, karena masih memiliki pola pikir zaman dulu, dimana yang berhak bekerja hanya laki-laki aja, sedangkan perempuan mesti di rumah. Karena di zaman sekarang kita, entah laki-laki atau perempuan bebas atas apa yang kita kerjakan selama tidak melanggar aturan dan norma yang berlaku di masyarakat.” Ucap Ikhsan sebagai seorang perawat.

Sebagai generasi muda era millenial ini, harus bisa mengubah persepsi masyarakat yang ada di sekitar kita bahwa, semua orang baik itu laki-laki ataupun perempuan memiliki hak yang sama dalam bidang profesi ini, seperti yang telah dikatakan oleh KMNPP RI (2001) Widayani (2014: 150) bahwa kesetaraan dalam profesi adalah proses yang adil bagi keduanya dan untuk menjaminnya perlu ada tindakan yang bisa menghentikan hal-hal yang secara sosial dan menurut sejarah menghambat perempuan dan laki-laki untuk berperan dan menikmati hasil dan peran yang dimainkannya.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Daya Tarik Wisata Edukasi di Yogyakarta (Wisata Taman Pintar dan Bus Heritage Track)

 Oleh: Fathia Annisa Pariwisata merupakan salah satu sumber kehidupan yang tidak bisa dilepaskan di masa sekarang. Di Indonesia sendiri pari...