Oleh: Nifala Rizki
Kesenjangan dalam dunia pekerjaan saat ini memang masih dipandang sebelah mata, karena hal tersebut dianggap bertolak belakang dengan konstruksi profesi pada zaman dulu yang masih dianut oleh negara kita, dimana dalam hal ini dibentuk secara sengaja oleh konstruksi sosial masyarakat kita. Terdapat banyak profesi yang masih dikaitkan dengan gender tertentu, misalnya polisi diidentikan dengan profesi laki-laki, sedangkan untuk perawat identik dengan pekerjaan perempuan dan lain sebagainya.
Banyaknya profesi yang dikait-kaitkan dengan gender, tetapi malah membuat banyak orang sudah melakukan breaking stereotype terhadap hal tersebut, akan tetapi malah mendapatkan diskriminasi dari lingkungan mereka. ILO (Organisasi Perburuhan Internasional) pada tahun 2013, juga menunjukkan hal yang sama, dimana status dan formalitas pekerjaan berperan penting dalam terjadinya diskriminasi gender, apalagi jika profesi tersebut selalu diidentikkan dengan suatu gender tertentu.
![]() |
Gambar Ilustrasi; |
“Kalo dipandang sebelah mata banyak ya,
terutama sama ibu-ibu. Padahal MUA sendiri tidak terbatas soal gender, karena MUA
ini sebuah seni merias wajah. Kita beranggapan bahwa wajah seseorang adalah
kanvas dan kita tidak membeda-bedakan laki-laki ataupun perempuan.” Ucap Zahrul
sebagai MUA.
Zahrul
adalah salah satu orang yang melakukan breaking stereotype
terhadap konstruksi sosial tentang kesenjangan profesi saat ini. Ia sudah
menjadi MUA sekitar 3 tahun lamanya dengan ikut di beberapa orang yang telah
menjadi mitranya selama ini, melalui sistem freelance.
“Saya biasanya ngambil job setiap hari
sabtu dan minggu saja ataupun saat ada callingan. Untuk hari biasanya saya
tolak, karena saya juga masih kuliah. Jadi pekerjaan MUA ini untuk kegiatan
sampingan.” Ucap Zahrul menambahkan.
Saat ini lingkungan kita masih menggunakan stereotype zaman dulu. Padahal hal itu
sudah tidak relevan lagi digunakan di zaman sekarang, karena sejatinya
laki-laki dan juga perempuan memiliki kesempatan dan juga kesetaraan yang sama
dalam berbagai hal, termasuk juga dalam berprofesi. Menteri
Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah juga mengatakan yang sama, yaitu laki-laki dan
perempuan memiliki kesetaraan yang sama dan harus dihargai bukan berdasarkan
gender, melainkan berdasarkan bakat, hasil kerja, dan kompetensi.
“Kalo penilaian atau dipandang sebelah mata itu sering
banget. Karena ada beberapa orang yang belum saya makeup-in, tapi sudah menilai
kalo hasil make up saya itu jelek, karena saya laki-laki sendiri dan yang lain
itu perempuan. Padahal menurut saya hasil make up saya juga nggak kalah sama
yang lain. Itu juga yang mungkin ngebuat profesi ini sepi untuk peminat
laki-lakinya.” Kata Zahrul.
Mengutip
pernyataan pers KemenPPPA dalam liputan6.com (2021) memastikan bahwa tidak hanya kaum perempuan saja dan tetapi
juga laki-laki bisa memiliki aksesibilitas terhadap sumber daya, serta dapat
berpartisipasi dan terlibat dalam proses pembangunan sesuai dengan kepentingan
dan aspirasinya. Tetapi pada kenyataanya sendiri, tidak banyak yang memiliki
aksesbilitas yang baik, karena bisa terhambat dari faktor diskriminasi dan pola
pikir masyarakat yang telah beredar. Hal itu juga dirasakan oleh Ikhsan sebagai
seorangg perawat di suatu rumah sakit.
“Iya kalo menurutku
memang bener profesi ini memang banyak digandrungi kaum wanita namunkan juga
tidak ada salahnya juga seorang pria seperti masuk dibidang ini mengingat
kebutuhan tenaga kesehatan keperawatan untuk pria sangat dibutuhkan diindonesia
dan itu pula yang menjadi alasan saya untuk masuk dalam bidang ini”. ucap
Ikhsan menjelaskan.
Berbeda dengan Zahrul yang masih dipandang sebelah mata di
lingkungan pekerjaannya, tetapi lingkungan pekerjaan Ikhsan lebih baik dan
kondusif akan kesetaraan dalam berprofesi, karena Ikhsan tidak mendapatkan
perlakuan buruk dari teman seprofesinya. Tetapi sama juga seperti Zahrul,
profesi perawat ini juga masih sepi dalam peminat laki-laki.
“Kalo ditanya alasannya
kenapa begitu mungkin sekarang juga sudah banyak pada yang tau bahwa perawat
juga bisa diisi oleh laki-laki, namun beda halnya lagi karena kurang
ketertarikan kaum laki-laki mungkin yang membuat bidang ini jadi sepi kaum
laki-lakinya.” Kata Ikhsan menerangkan.
Pola pikir tentang konstruksi sosial dalam berprofesi ini
sudah mendarah daging di telinga masyarakat dan telah menjadikannya patokan.
Oleh karena itu, beberapa profesi yang sering diidentikkan dengan gender
tertentu, menjadi sepi peminat, seperti pengalaman yang telah dilakukan oleh
Ikhsan dan juga Zahrul, bahwa data laki-laki dalam bidang profesi tersebut bisa
dikatakan sepi laki-laki. Padahal setiap pekerjaan memiliki kesetaraan yang sama,
tanpa melihat apakah itu seorang perempuan atau laki-laki.
“Untuk mereka yang tidak setuju mengenai kesetaraan
gender ini mungkin bisa dibilang pemikirannya kurang terbuka, karena masih
memiliki pola pikir zaman dulu, dimana yang berhak bekerja hanya laki-laki aja,
sedangkan perempuan mesti di rumah. Karena di zaman sekarang kita, entah
laki-laki atau perempuan bebas atas apa yang kita kerjakan selama tidak
melanggar aturan dan norma yang berlaku di masyarakat.” Ucap Ikhsan sebagai
seorang perawat.
Sebagai
generasi muda era millenial ini, harus bisa mengubah persepsi masyarakat yang
ada di sekitar kita bahwa, semua orang baik itu laki-laki ataupun perempuan
memiliki hak yang sama dalam bidang profesi ini, seperti yang telah dikatakan
oleh KMNPP RI (2001) Widayani (2014:
150) bahwa kesetaraan dalam profesi adalah proses yang adil bagi keduanya dan untuk
menjaminnya perlu ada tindakan yang bisa menghentikan hal-hal yang secara
sosial dan menurut sejarah menghambat perempuan dan laki-laki untuk berperan
dan menikmati hasil dan peran yang dimainkannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar