Oleh: Rifka Annisa
 |
Gambar; Foto Pribadi |
Pandemi
covid-19 yang berlangsung sejak awal 2020 sehingga membuat seluruh kegiatan
yang mengumpulkan banyak orang harus berhenti total. Sektor hiburan menjadi
salah satu yang terkena dampak, tertutama acara yang digelar secara langsung (live) yang menghadirkan banyak penonton
seperti konser. Terdapat rasa kecewa di hati penikmat musik ketika mengetahui
bahwa konser-konser musik sang idola ditunda atau bahkan dibatalkan. Para
musisi di seluruh dunia pun memutar otak agar tetap bisa berkarya dan terhubung
dengan para penggemar mereka. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan
menggelar konser secara virtual.
Pagelaran
musik secara virtual atau online ini menggunakan perantara daring, dimana
musisi dan penonton bertemu secara tidak langsung lewat platform streaming.
Konser semacam ini kian populer sejak adanya pandemi dan di prediksi akan
berlanjut menjadi tren. Berdasarkan laporan dari perusahaan riset hiburan MIDiA
berjudul Virtual Concert: A New Video Format, pangsa konser vitual sejak
Juni-November 2020 naik drastis dari angka 1,9 persen ke 40,7 persen menurut
Bandsintown sebuah platform yang menginformasikan acara konser disekitar lokasi
pengguna.
Tidak dipungkiri terlaksananya konser secara
virtual ini karena support dari para pecinta musik, mereka yang telah lama
tidak menyaksikan konser sedikit terobati rasa rindunya dengan hadirnya konser
online. Mahasiswi D3 Poltekes Surakarta Dania Astri menceritakan pengalamannya
selama pandemi menonton konser secara virtual. Meski melalui perantara media
Dania tetap merasa senang karena kerinduannya melihat sang idola perform dapat
terwujud.
“Buat
ngobatin rasa kangen aku sama konser biasanya aku cari-cari di instagram atau
tiktok tentang info tiket konser virtual gitu. Rasanya seneng bisa nonton
konser walaupun cuma sekedar lewat online gini. Disisi lain aku juga lumayan
untung karena tiket nya kan ngga terlalu mahal, terus bisa aku tonton sambil
tiduran”, ucap Dania sambil tertawa.
Tidak
hanya melihat seorang diri, terkadang Dania meikmati konser online dengan mengajak
saudara ataupun keponakannya, hal itu dia lakukan untuk mengatasi kebosanan
karena tidak ada tepuk tangan meriah dari penonton, selain itu Dania juga
menyambungkan streaming online konser tersebut melalui TV kabel.
“Kadang-kadang
kalau saudara sama keponakan kumpul aku suka ngajakin nonton bareng lewat TV
biar lebih meriah ada suara tepuk tangan sama teriakan dikit, jadi sedikit
heboh biar kesannya kaya konser offline”, tambah Dania.
Hal yang
sama dirasakan oleh Diah Kartikasari, sama-sama menjadi mahasiswa D3 Analisis
Farmasi dan Makanan di Poltekes Surakarta, wanita yang akrab di sapa Sari ini
juga menikmati konser virtual. Namun disisi lain dia tidak merasakan vibes konser sesungguhnya karena tidak
datang langsung ke lokasi.
“Selama
pandemi ini aku liat konser secara streaming sih biasanya. Konser virtual ini
menurutku cukup menghibur dimasa pandemi gini buat ngisi waktu luang kalo lagi
dirumah. Apalagi waktu ngerjain tugas akhir kan butuh selingan hiburan jadi
konser online cukup menghibur kepenatan aku. Cuma euphoria nya kurang dapet
beda gitu sama offline yang ramai-ramai banyak penontonnya, biasanya kalau mau
nonton konser aku selalu nyiapin outfit, ini engga ya nyantai aja pakai kaos
sambil nyemilin jajan. Nontonnya juga kurang puas karena cuma lewat laptop ga
keliatan jelas”, ungkap Sari.
Hal
berbeda dirasakan oleh Fahrul Amri lelaki lulusan Teknik Informatika negeri
Jiran Malaysia ini menjelaskan bahwa dia tidak terlalu menyukai konser online
karena terkesan seperti melihat youtube. Bahkan selama pandemi dia hanya
meononton satu konser online namun tidak dia tuntaskan hingga akhir acara.
“Selama
pandemi aku jarang melihat konser online sih, cuma sekali aja dan itu ga aku
selesaiin sampai akhir karena udah keburu bosen cuma duduk doang depan laptop.
Karena menurutku itu buang-buang uang, pertama euphorianya kurang dapet, kedua
bosen cuma duduk doang malah yang ada ngantuk, ketiga konser online itu nanti
bisa diakses lagi lewat youtube karena biasanya itu di save jadi beli tikernya
rugi”, ucap lelaki bertubuh gempal tersebut.
Selain itu
ada pula Haifa seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi semester 6 mengungkapkan
perasaan kecewanya selama menonton konser hanya melalui virtual.
“Jujur
selama tidak diperbolehkannya konser offline ini aku kurang semangat ya nonton
konser online, rasanya beda banget karena kan kalo konser offline bisa ketemu
orang baru, ngerasain panasnya desek-desekan sama penonton lain bahkan kalau
outdoor kehujanan juga, kalau online berasanya kaya kuliah daring.” ungkap
Haifa.
Tidak
hanya itu, meski menyaksikan konser virtual bersama teman-teman Haifa tetap
merasakan bosan dan tidak menikmati berlangsungnya konser.
“Pernah
sekali lihat dikosan bareng temen cuma ya rasanya tetep aja sama, bosen nggak
seru bawaannya ngantuk, menurutku plusnya sih kalau ngantuk apa capek duduk
bisa langsung bisa tidur dikasur ya hehe” ujarnya.
Konser Offline Dinanti
Konser
offline jelas sangat dinantikan oleh para penikmat musik baik dalam negeri
maupun luar negeri karena saat ini pemerintah telah melonggarkan aturan untuk
mengadakan event konser dan ekonomi kreatif.
Hal ini menyusul perkembangan kondisi pandemi yang semakin membaik.
Dilansir dari liputan6.com (27/3) Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga
Uno menyampaikan bahwa konser dapat digelar dengan syarat menerapkan protokol
kesehatan serta vaksinasi lengkap. Kabar tersebut disambut baik oleh keempat
narasumber tersebut, Haifa rela jauh-jauh ke Bandung menyaksikan konser offline
demi menebus rasa rindunya selama 2 tahun ini yang tidak bisa untuk datang
langsung ke lokasi.
“Beberapa
waktu yang lalu sekitar awal Juni aku dadakan banget ke Bandung karena dikasih
tiket konser gratis sama temen. Aku rela jauh-jauh ya karena emang udah kangen
banget nonton konser offline apalagi kan sekarang pemerintah udah ngebolehin
jadi sayang banget kalo sampe aku lewatin penyanyi yang tampil pun juga banyak
dan keren-keren kaya BCL, Kunto Aji, Noah jadi ya momen ini bener-bener yang
aku tunggu selama 2 tahun ini”, ungkap Haifa.
Tidak
hanya sebagai penikmat musik jazz dan pop Haifa juga menyatakan kebahagiaannya
saat melihat konser dangdut asal Jogja yang baru saja diadakan di Auditorium
UMY.
 |
Gambar; Foto Pribadi |
“Tanggal
30 Juni kemarin aku juga baru aja liat Guyon Waton di UMY, kebetulan aku orang
jawa dan suka juga sama lagu dangdut jadi asik gitu bisa goyang di tengah
kerumunan orang”, pungkas Haifa diiringi gelak tawa.
Sama
dengan Haifa, Arul juga tidak ingin melewatkan momen berharga ini. Setelah 2
tahun dia hanya melihat konser secara virtual kali ini dia begitu senang karena
sudah dapat menonton konser secara langsung. Arul mengungkapkan kebahagiaannya
saat menonton prambanan jazz karena konser tersebut selalu dia nantikan tiap
tahun.
 |
Gambar; Foto Pribadi |
“Setelah 2
tahun ga dibolehin konser offline, kemarin perdana liat prambanan jazz setelah
dilonggarkan aturan sama pemerintah, pastinya seneng banget sih, karena aku kan
orang Klaten jadi mumpung deket dan offline aku langsung gas nonton”, tutur
Arul.
Meskipun
belum sempat menonton konser offline setelah pemerintah melonggarkan aturan
mengenai izin penyelenggaraan konser Sari telah membeli tiket di akhir tahun
untuk menyaksikan penyanyi idolanya. “Sampai saat ini aku belum nonton konser
offline lagi ya, tapi aku udah pesen tiket buat lihat Justin Bieber di akhir
tahun”, ungkap Sari.
Sebagai
penikmat musik dan penggemar lagu-lagu pop dan jazz tentu Dania tidak ingin
melewatkan momen ini. Wanita berlesung pipit tersebut telah melihat beberapa
konser offline di sekitar Jogja dan Solo. “Udah ada 4 konser sih sejauh ini
yang aku lihat, kaya Tulus, Feby Putri, Vierratale, sama Fiersa Besari”,
katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar