Oleh: Fathia Annisa

Foto di Pesantren Waria; Foto Pribadi
Seiring dengan berjalannya waktu kebebasan dalam berpenampilan melahirkan berbagai macam tafsir dan sudut pandang yang berbeda, dan menjadikan suatu hal yang baru sebagai perbincangan dengan stigma sosial. Kehadiran waria menjadi suatu fenomena sosial di masyarakat yang sering dianggap bahwa waria itu orang-orang yang tidak normal dan dianggap penyakit oleh masyarakat sekitar.
Hidup sebagai seorang waria bukanlah sebuah hal yang mudah. Perjuangan Shinta sebagai penerus dalam membangun pondok pesantren waria Al-Fatah ini sempat menjadi pro dan kontra di masyarakat. Awalnya, ponpes waria ini berdiri di Notoyudan, Kota Yogyakarta, didirikan oleh Maryani pada tahun 2008. Dirinya mengontrak sebuah rumah dan dijadikan tempat belajar agama. Pada tahun 2014, pendiri pondok pesantren waria Al-Fatah meninggal dunia. Pesantren ini juga sempat vakum setelah kehilangan Maryani. Namun, Shinta yang merupakan salah satu pengurus di pesantren tersebut kembali mengaktifkan Ponpes ini dengan dukungan waria asuhannya di tahun 2016.
Tak berselang lama, pendirian ponpes sempat menjadi pro dan kontra di masyarakat pada tahun 2016. Mereka dituding menyebarkan ajaran sesat hingga menjadi tempat mabuk-mabukan yang berkedok pesantren. Namun kejadian itu memberikan berkah terselubung bagi mereka, Sejumlah aktivis sosial dan Komnas Perempuan membela mereka.
“Tantangannya adalah bagaimana kami
memperjuangkan hak untuk ibadahnya kawan- kawan waria, masih ada beberapa
kelompok yang tidak membolehkan waria itu beribadah”, kata Shinta, Ketua
Pesantren waria di Yogyakarta.

Foto di Pesantren Waria; Foto Pribadi
Dia melanjutkan, bahwa Islam itu rahmatan lil alamin, menjadi rahmat seluruh alam, termasuk juga kawan-kawan waria.
Selama bulan Ramadhan pondok ini juga melaksanakan rangkaian kegiatan yang disusun oleh Shinta selaku pemilik pondok. Ada program kajian keagamaan dan agenda rutin di setiap hari rabu dan minggu yang dilakukan pada bulan Ramadhan. Mulai dari tadarus, dzikir, hingga buka bersama. Lalu dilanjutkan dengan sholat maghrib, isya dan ditutup dengan tarawih secara berjamaah. Nampak terlihat dari raut wajah para waria ini, mereka sangat antusias mendengarkan kajian dan melafalkan dzikir bersama tanpa diskriminasi dari orang lain.
Akhirnya sampai saat ini Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta menjadi tempat bagi para waria. Teruntuk bagi mereka yang mengalami keterbatasan untuk dekat dengan Tuhan di ruang publik. Dia berharap pesantren waria ini bisa mewadahi para waria yang ingin mendekatkan diri dengan Tuhan lewat kegiatan keagamaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar