Oleh: Aldi Faik
![]() |
Gambar Ilustrasi; Foto Pribadi |
Sempat terhenti karena pandemi COVID-19, saat ini perekonomian dalam negeri khususnya di sektor perdagangan mulai bangkit kembali. Meski dulu sempat dibatasi, kini aktivitas jual beli sudah bebas beroperasi. Seperti yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Perlahan namun pasti, daerah yang dijuluki sebagai Kota Pelajar ini semakin menunjukkan kemajuan dalam ranah perekonomian. Mengutip dari laman www.bi.go.id , perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta pada triwulan IV 2021 bertumbuh positif 2,82% (yoy), hal ini disebabkan karena adanya penurunan level PPKM 4 yang mendorong relaksasi mobilitas masyarakat.
Di Yogyakarta sendiri, terdapat satu kawasan yang menjadi bukti dari adanya pelonggaran mobilitas masyarakat dalam aktivtas perdagangan. Kawasan yang dimaksud adalah Jogokaryan. Mengangkat icon masjid setempat, kawasan ini berhasil membangkitkan perekonomian masyarakat melalui aktivitas jual beli yang dilakukan selama bulan suci ramadhan. Walaupun sempat terhenti karena pandemi COVID-19 yang terjadi, pemerintah akhirnya membuka kembali kawasan Jogokaryan untuk dijadikan sebagai Kampung Ramadhan.
Hingga
kini, kampung ramadhan Jogokaryan (KRJ) masih menjadi destinasi utama untuk
mencari takjil menjelang berbuka puasa. Baik masyarakat lokal maupun luar Jogja,
semua berbondong-bondong mengunjungi kawasan ini. Bukan hanya ramai pengunjung
saja, KRJ juga dipenuhi oleh parapedagang. Pedagang yang beragam berjejer di
pinggir jalan sepanjang kawasan Jogokaryan.
Menjual
aneka makanan dan minuman, para pedagang dikawasan ini ramai menjajakan
dagangannya. Ada yang menggunakan media tulisan bahkan sebagian ada yang
berteriak agar dapat menarik pelanggan. Antusiasme dari penjual maupun pembeli
sangat terlihat disini.
Salah
satu pengunjung menceritakan pengalamnnya ketika berkunjung ke Kampung Ramadhan
Jogokaryan “Ini adalah kali kedua saya mengunjungi Kampung Ramadhan Jogokaryan,
saya sangat berantusias dan merasa senang karena dapat merasakan sensasi bulan
ramadhan dengan mencari takjil di tempat ini” tutur Silvia, seorang mahasiswa
rantau dari Jepara. “Harga makanan dan minuman disini bervariatif, ada yang
murah ada yang mahal, saya kira para pengunjung dapat menyesuaikan isi kantong
untuk membeli makanan atau minuman di KRJ ini” tambahnya.
Kesenangan
serupa juga dirasakan oleh penjual di KRJ ini “Saya merasa senang karena KRJ
ini kembali diadakan. Saya yakin, bukan hanya saya saja yang merasa senang,
para pedagang yang lain dan tentunya
pengunjung juga merasakan hal serupa” ujar Daffa. Pria yang sehari hari berjualan
es di KRJ ini pun mengaku jika mendapatkan keuntungan dengan berjualan di
kawasan ini “Alhamdulillah, dagangan saya setiap hari laris. Keuntungannya juga
lumayan, kira-kira sehari bisa tembus Rp.350.000” imbuhnya.
Dari
pantauan lain, masih di sekitaran kota Yogyakarta tepatnya di utara Universitas
Gadjah Mada juga ditemui aktivitas serupa. Kegiatan jual beli oleh padagang dan
pembeli terlihat di kawasan Klebengan ini. Bedanya dengan KRJ, spot kuliner
seputaran Klebengan biasanya dibuka sampai malam.
Sama halnya dengan KRJ, para pengunjung dapat melihat deretan pedagang yang menjual beragam makanan dan minuman. Para pengunjung dapat menikmati suasana malam dengan membeli aneka makanan yang tersedia di kawasan ini.
![]() |
Gambar Ilustrasi; Foto Pribasi |
Para
pedagang mengaku mendapat untung banyak dengan berjualan di spot kuliner
Klebengan. Tidak seperti hari biasa, saat bulanramadhan tiba, hampir 2 kali
lipat keuntungan bisa didapatkan. Seorang pedagang risol mayo bernama Vina
membagikan kisahnya “ Selama bulan Ramadhan ini saya membantu ibu berjualan di
Klebengan, karena memang di bulan ramadhan kedai kami ramai diserbu pelanggan.
Saya nggak tega lihat ibu saya kerepotan sendiri melayani pembeli”.
Saat
disinggung mengenai keuntungan, Vina menuturkan jika omset yang didapatkan
begitu besar. “Disini kami kan jualnya nggak Cuma risol saja, kami juga jual
empek empek, kalau dihitung keuntungannya bisa sampai 1 juta, ya Alhamdulillah
lah” imbuhnya sembari sedikit tertawa.
Melihat
2 fenomena perputaran uang di 2 kawasan yang berbeda, yaitu Kampung Ramadhan
Jogokariyan dan spot kuliner Klebengan, dapat ditarik kesimpulan bahwa saat ini pertumbuhan ekonomi masyarakat
daerah mulai bangkit kembali. Ditandai dengan berjayanya pedagang-pedagang
daerah yang sukses mendapat hoki dan juga antusiasme yang begitu besar dari
para pembeli. Hal semacam ini seharusnya bisa menjadi perhatian lebih kepada
pemerintah daerah untuk bisa mengembangkan lokasi patau kawasan perdagangan
dengan menyediakan fasilitas umum yang mumpuni agar para penjual dan pembeli
dapat merasa nyaman dengan aktivitas yang dilakukan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar